MENGAJI PANGGUNG : SENDRA TARI “RAMAYANA BALLET PRAMBANAN”

 

Malangupdate.com – Tanggal 9 Mei 2016 pas jatuh malam Minggu, saat yang nyaman untuk menikmati Sendra tari “Ramayana Ballet Prambanan” yang dipentaskan di panggung terbuka (“Teater of Ramayana Ballet Prambanan”). Meski malam itu di langit tidak tengah menggantung rembulan, namun setidaknya udara di seputar candi Prambanan cukup sejuk. Lokasi Panggung pertunjukkan yang berada 100 m dari jalan Raya Yogya – Solo Km. 16  Kecamatan Prambanan; atau tepatnya di sebelah Barat komplek candi Prambanan yang berseberangan dengan Kali Opak.

Memang menjelang sore itu daerah Prambanan sempat diguyur hujan meski tidak terlalu deras. Namun hujanpun reda menjelang jam pertunjukan, pukul 19.30. Langit kembali cerah, sehingga acara pentas “Ramayana Ballet” dapat dilangsungkan sebagaimana mestinya, yakni di ruang terbuka Pentas Candi Prambanan yang berlatar belakang Candi Siwa, candi Brahma dan Candi Wisnu.

Tulisan ini coba mengkaji seluk beluk Pementasan Sendra tari “Ramayana Ballet” ini secara singkat, sebagai gambaran kecil yang sempat penulis amati dalam pergelaran itu. Pentas pergelaran “Ramayana Ballet Prambananan “ di Yogya ini sudah berjalan puluhan tahun dan kini menjadi ikon penting pariwisata Yogyakarta. Karena itulah kepada wisatawan yang tengah menikmati Yogyakarta, tentu tak keliru bila memasukkan acara yang satu ini sebagai agenda liburannya.

rama 2

Umur pergelaran yang telah puluhan tahun, tentu banyak memberi pelajaran bagi kita seputar pelaksanaan sebuah event kesenian berstandar international. Namun sebelum masuk ke pembahasan inti, ada persepsi yang perlu disamakan yakni pertanyaan mendasar sebagaimana dikemukakan pakar seni pertunjukan, Lono Simatupang. Beliau dengan jeli mempertanyakan apakah yang setiap yang kita tonton itu adalah Tontonan? Jawabnya tentu tidak. (“Pergelaran”, Lono Simatupang, Jalasutra, Yogyakarta, 2013, hal. 64). Di paragraf selanjutnya, Lono menerangkan bahwa orang pergi menonton suatu pergelaran dengan kesadaran dan harapan bahwa ia akan menjumpai, mendengar, melihat dan mengalami hal-hal yang tidak biasa. (Lono Simatupang, 2013: hal 65).

rama 3

Nah, setelah kita tahu adanya beberapa unsur yang penting dalam sebuah pergelaran atau tontonan maka sekarang kita coba masuk ke tema bahasan. Pertama dengan meyakini bahwa pergelaran “Ramayana Ballet” di kompleks candi Prambanan, Yogyakarta sebagai sebuah tontonan, karena peristiwa ini memenuhi persyaratan di atas. Pergelaran hebat ini tidak setiap saat bisa kita lihat alias tontonan (Pergelaran) ini memiliki persyaratan tertentu untuk dapat digelar.  Misalnya memiliki jadwal main, tanggal dan jam pertunjukkan, pola penjualan tiket dari varian harga tiket sampai teknis pemesanan bahkan beberapa aturan ketika pertunjukan berlangsung. Semuanya diatur, ditata rapi dan dilaksanakan secara professional, dalam arti terdata dan terukur. Ambil contoh soal penjualan tiket pagelaran; tiket pertunjukkan ini dapat dipesan secara on line atau off line, sebelum hari pertunjukkan atau saat sebelum jam pertunjukkan. Cara seperti ini memastikan jumlah penonton dan memiliki data penonton yang dapat dipakai manajemen dalam menyiapkan segala sesuatunya.

Arena pergelaran “Ramayana Ballet Prambanan” memiliki dua tempat yang saling berdekatan. Yang utama dirancang di ruang terbuka sebagai “Open air theater”dengan bentuk huruf “U”. Ruang besar terbuka ini memiliki panggung seluas 50 x 12 meter yang ditempatkan di bagian depan berhadapan dengan bangku penonton. Di balik panggung terdapat ruang rias yang cukup luas untuk digunakan berbagai keperluan pemain. Arena pertunjukkan ini berkapasitas 1.138 kursi, didesain secara berundak sehingga seluruh penonton dapat menikmati pertunjukan dengan nyaman. Tempat pertunjukan yang kedua adalah di Gedung Trimurti yang lokasinya bersebelahan dengan panggung terbuka. Gedung ini didesain sebagai panggung tertutup yang digunakan ketika cuaca hujan sehingga tidak memungkinkan main di stage terbuka.

Pertunjukkan “Ramayana Ballet Prambanan” ini digagas pertamakali oleh Letjen (Purnawirawan) GPH Djati Koesoemo, setelah kunjungan beliau ke Kamboja pada bulan April 1961 dan menyaksikan pertunjukkan Royall Ballet of Cambodia di depan Angkor Wat. Kemudian rancang bangun pentas ini dikerjakan oleh Bapak Ir. Harsoyo, dosen dari UGM (Universitas Gajah Mada) di Yogya.

rama 4

Kehebatan Pertunjukkan ini didukung oleh berbagai hal yang dilakukan dengan manajemen yang professional. Secara teknis, misalnya soal penataan lighting yang sangat bagus. Lightingnya menggunakan daya listrik cukup besar yang mampu menerangi seluruh area panggung dari ujung depan sampai back ground di balik candi Prambanan. Selain itu lightingnya ditangani oleh orang yang benar-benar mengerti lighting panggung. Keindahan penataan cahaya yang berwarna-warni juga sebaran cahaya sebagai lampu utama, lampu pendamping atau lampu back ground sangat terperhatikan. Kehadiran lightingman yang baik benar-benar dapat menunjang terciptanya suasana pertunjukkan sebagaimana diharapkan sang sutradara. Satu hal menonjol yang spektakuler ketika kita dapat menikmati panorama candi Prambanan di malam hari  yang disoroti cahaya warna warni yang begitu indah dengan latar belakang bentangan langit luas nan gelap.

Keindahan panorama candi  Prambanan di malam hari itu sengaja difungsikan sebagai back ground Sendratari “Ramayana Ballet Prambanan”. Tak hanya penataan lampu, permainan pencahayaan dalam pementasan inipun pantas diacungi jempol. Artistika suasana terbangun baik, selaras dengan jalan ceritanya. Untuk memberi tekanan focus kepada panggung pertunjukkan, maka ruangan penonton sengaja digelapkan. Selain itu panitia juga menaruh aturan yang melarang penonton menggunakan selular selama pertunjukkan berlangsung dan melarang memotret menggunakan lampu blitz.

rama 3

Sebagaimana dikatakan Lono Simatupang bahwa aspek bunyi merupakan salah satu penentu dalam keberhasilan sebuah pementasan. Kekuatan dan kwalitas sound system yang digunakan di pentas ini cukup ideal, mampu memberikan suara keras secara alamai tanpa mendistorsikan karakter suara. Selain itu karena tata bangunan ruang pertunjukkan ini dibangun secara benar, sehingga tidak memunculkan gaung.

Di sebelah kiri dan kanan belakang pentas, ditaruh dua set gamelan “laras Pelog” dan “larasSlendro” yang dimainkan sekitar 60 pengrawit (pemain musik jawa) dengan pencahayaan rendah atau remang, agar tidak mengganggu panggung utama. Hal ini bisa dimengerti sebab musik pada gelaran ini berfungsi sebagai pengisi ruh gerak sendratari.

Karena sendra tari “Ramayana Ballet Prambanan” ini disajikan dengan tidak ada dialog yang diucapkan para pemainnya, maka kekuatan gerak menjadi penentu dalam menyampaikan maksud cerita. Dengan alasan ini, menuntut konsentrasi dari para penontonnya untuk terus mengikuti secara cermat agar mengerti alur ceritanya dengan baik. Dalam hal ini alur cerita juga sudah dibagikan kepada penonton dalam bentuk leaflet berbahasa asing dan Indonesia. Epos Ramayana digubah oleh Mpu Walmiki yang menceritakan usaha Sri Rama dalam menyelamatkan Dewi Shinta yang diculik Rahwana. Upaya penyelamatan ini dibantu oleh Anoman dan Burung Jatayu. Pertunjukan sendra tari Ramayana ini dibagi menjadi 4 babak yaitu : 1. Adegan penculikan Sinta, 2. Kisah Anoman ke Alengka, 3. Kematian Kumbakarna dan Rahwana, dan 4. Bersatunya Sri Rama dan Sinta.

Pentas “Ramayana Ballet Prambanan” ini pertama kali pada 26 Juli 1961 dan mendapat sambutan yang baik dari publiknya. Kemudian pada tanggal 25 Agustus 1961, Bung Karno, Presiden Indonesia I, bersama 5 menteri-nya menyempatkan diri menonton bahkan beliau mengapresiasi pertunjukkan ini dengan baik dengan tulisan: “Ballet Ramayanan adalah satu pertjobaan (good effort) untuk membawa seni pentas Indonesia ke taraf yang lebih tinggi. Tertanda Soekarno”.  (Her/AW)

 

Sejarah Sendratari Ramayana di Prambanan

Panggung terbuka di Pelataran Candi Prambanan ini dirancang oleh Harsoyo dari UGM srta mempunyai ukuran 50 x 12 meter serta dapat menampung 3000 penonton.

Jadwal Pentas Sendratari Ramayana Prambanan 2015

Tempat Pementasan Sendratari Ramayana dilaksanakan di Teater of Ramayana Ballet Jl. Raya Yogya – Solo Km. 16 Prambanan Yogyakarta. Lokasi ini berdekatan dengan kompleks wisata Candi Prambanan, hanya dipisahkan oleh Kali Opak. Namun di lokasi ini ada dua tempat yang dapat digunakan sebagai pementasan Sendratari Ramayana, yaitu di dalam Gedung Trimurti ataupun di Panggung terbuka dengan background Candi Prambanan. Pementasan dilaksanakan di dua tempat ini secara bergantian mengingat kondisi cuaca. Biasanya pada musim hujan akan dilaksanakan secara indoor di Gedung Trimurti. Sedangkan pada musim kemarau dilaksanakan di panggung outdoor. Untuk hari pementasannya tidak banyak mengalami perubahan sejak dulu, yaitu rutin dilaksanakan pada Hari selasa, kamis dan sabtu malam, kecuali pada saat-saat tertentu.

Sendratari Ramayana Prambanan merupakan sebuah pertunjukan yang menggabungkan tari dan drama tanpa dialog, diangkat dari cerita Ramayana dan dipertunjukkan di dekat Candi Prambanan di Pulau JawaIndonesia.[1][2] Sendratari Ramayana Prambanan merupakan sendratari yang paling rutin mementaskan Sendratari Ramayana

You May Also Like

Leave a Reply