Peserta BPJS Kesehatan di Malang Masih Rendah

    MALANGUPDATE-Sejak diluncurkan pada tahun 2014 lalu, banyak hal yang terjadi terkait dengan BPJS Kesehatan. Kota Malang merupakan Kota/Kabupaten terendah kedua setelah Tulungagung dalam hal jumlah pesertanya di Jawa Timur.
    Hal ini diungkapkan Kepala BPJS Cabang Malang Hendri Wahyuni dalam “Sosialisasi JKN-KIS dan Gathering media BPJS Kesehatan Cabang Malang 2017, di Taman Indie Araya, Rabu (9/8/2017).
    Namun ia menegaskan bahwa keikutsertaan warga Kota Malang sendiri sudah cukup baik dibandingkan Kabupaten Malang. “Sedikitnya 76 % warga kota sudah ikut, sementara di Kabupaten Malang belum ada 50 % dari sekitar 3 juta warganya yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan,” imbuhnya

    Gathering - Dari kiri-Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang Hendri Wahyuni, Wawali Drs H Sutiaji dan Ketua AJI Hari Istiawan saat menjadi pembicara dalam gathering di Taman Indie Araya.
    Gathering – Dari kiri-Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang Hendri Wahyuni, Wawali Drs H Sutiaji dan Ketua AJI Hari Istiawan saat menjadi pembicara dalam gathering di Taman Indie Araya.

    Hendri mengatakan, media diharapkan dapat turut menyebarkan informasi terkait pentingnya menjadi peserta BPJS kepada msayarakat. “Karena pada umumnya kekurangan dan ketidakpuasan masyarakat saat memanfaatkan pelayanan BPJS Kesehatan dicurahkan lewat media,” ujarnya.
    Masyarakat diharapkan proaktif dengan melaporkan ke kantor BPJS jika ada rumah sakit yang memberi pelayan tidak sesuai prosedur. Namun sayang, pihaknya hanya bisa memberi surat peringatan saja kepada rumah sakit yang bersangkutan. “Sehingga peran Pemerintah Daerah dalam hal ini sangat kami harapkan,” ujarnya.
    Sementara Wakil Walikota Drs H Sutiaji mengatakan, rendahnya keikutsertaan masyarakat ini disebabkan berbagai faktor antara lain rendah literasi tentang BPJS. “Sehingga masyarakat menjadi apriori,” imbuhnya.

    Menyimak-Undangan dari media cetak dan elektronik menyimak acara.
    Menyimak-Undangan dari media cetak dan elektronik menyimak acara.

    Dikatakan Sutiaji, faktor lainnya adalah persyaratannya kurang fleksibel dan sering diping-pong rumah sakit yang menjadi rujukannya.
    “Sering ada komplain pelayanan BPJS Kesehatan di rumah sakit tertentu, sehingga saya ingin ke depan ada pertemuan yang mengundang perwakilan rumah sakit di Malang, SPSI dan perwakilan perusahaan,” ujarnya.
    Namun ia mengakui bahwa peran Pemerintah belum maksimal dalam mengayomi masyarakat termasuk di bidang kesehatan, meskipun sebelumnya sudah ada layanan Jamkesmas dan Jamkesda.
    Menurut Sutiaji, salah satu upaya yang akan dilakukan adalah membuat MoU dengan rumah sakit terkait updating ketersediaan kamar yang bisa diakses warga.
    Pembicara lainnya, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Hari Istiawan mengatakan, dalam menulis berita pelayanan publik, termasuk pekayanan BPJS ini, jurnalis diharapkan punya cara berbeda dengan jurnalis warga lewat pertimbangan matang, apa saja
    yang akan ditulis.

    Santai-Gathering berlangsung dalam suasana santai.
    Santai-Gathering berlangsung dalam suasana santai.

    “Tidak semua yang badnews itu dapat diangkat menjadi berita, masih banyak goodnews yang bisa ditulis,” ujarnya.
    Hari mengungkapkan adanya kecenderungan awak media mendaftarkan BPJS Kesehatan secara mandiri, mengingat banyak yang berstatus hanya sebagai kontributor saja, bukan karyawan tetap.
    Suasana gathering berlangsung lancar dan santai, Wawali Sutiaji dan Hendri Wahyuni tak sungkan menyumbangkan suaranya dan ikut bergoyang bersama seorang awak media.(putra)

    Foto-foto: malangupdate/putra

You May Also Like

Leave a Reply