Akuntansi Dan Korupsi, Antara Film Dan Realita

MALANGUPDATE-Pada tahun 1994, Hollywood merilis film drama berjudul “The Shawshank Redemption”, yang berkisah tentang kehidupan para narapidana di sebuah penjara. Adalah Andy Dufresne (Tim Robbins), seorang bankir sukses yang divonis bersalah atas tuduhan pembunuhan yang dilakukan terhadap istrinya sehingga harus dipenjara seumur hidup di penjara Shawshank, New England. 
Kisah berkembang ketika suatu hari sipir penjara Kapten Hadley bingung karena uang hasil asuransi kematian saudaranya akan kena potongan pajak yang cukup besar. Andy pun menawarkan jasanya untuk mengurusi keuangan tersebut kepada sang sipir.
Kemampuannya sebagai seorang bankir andal membuatnya berhasil mengolah keuangan sang sipir yang akhirnya bebas pajak.
Kabar ini pun menyebar sampai ke telinga Kepala Penjara Samuel Norton. Ia memanfaatkan Keahlian finansial Andy untuk kegiatan pencucian uang.
Andy akhirnya merasa gerah, sehingga ia kabur dari penjara Shawshank dan membeberkan kejahatan pencucian uang yang dilakukan Norton kepada pihak berwajib.
Sementara itu, aktor Ben Affleck berperan sebagai Christian Wolff adalah seorang akuntan dalam film “The Accountant” yang dirilis pada tahun 2016 lalu. Namun ia bukanlah seorang akuntan biasa, karena Wolff adalah penderita autis yang mampu bertransformasi menjadi jenius matematika.  Kemampuannya di bidang finansial yang di atas rata-rata, membuat sejumlah perusahaan kriminal memanfaatkan jasanya untuk membuat pembukuan palsu atau manipulasi keuangan yang dalam dunia keuangan
dikenal dengan istilah “cook the books”.
Sepak terjang Wolff juga menarik perhatian sebuah perusahaan manufaktur robot, Living Robotics, yang bergerak di bidang pengadaan kaki dan tangan palsu. Mereka menyewa Wolff menyelidiki dugaan korupsi dalam perusahaan, karena adanya perbedaan neraca sebesar 61 juta dollar AS pada pembukuan perusahaan.
Kedua film ini adalah sebagian kecil dari sejumlah film yang mengangkat tema keuangan sebagai sentralnya. Bahkan kedua film di atas merupakan tipikal film Hollywood pada umumnya yang menjual drama dan aksi laga, namun para penulis dan sutradara berhasil meracik unsur pengelolaan keuangan yang rumit sebagai ide cerita dan membalutnya menjadi sebuah kisah menarik.
Seperti alur cerita film “The Shawshank Redemption” yang awalnya mengalir lamban layaknya film-film drama pada umumnya. Namun penonton menjadi penasaran dan antusias karena suguhan trik-trik akuntansi yg dilakukan Andy dalam memanipulasi keuangan para sipir penjara.
Sementara “The Accountant” mencoba menampilkan dua sisi profesi seorang akuntan. Pada satu sisi ia membuat pembukuan palsu, sementara ia juga harus menyelidiki korupsi di perusahaan lainnya.
Sisi menarik dari kedua film ini bukan hanya dari aksi para pemainnya, namun justru pada plot membeberkan kecerdasan dalam mengelola ilmu keuangan.
Mungkin inilah keunggulan Hollywood, yang berhasil membuat sebuah tontonan dan tuntunan dengan cara mereka sendiri. Upaya ini mampu mengenalkan berbagai profesi dan keahlian dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah di bidang akuntansi, dengan memanfaatkan sinema sebagai produk budaya.
Tidak hanya sebagai tema dalam berbagai film, proses pemungutan dan penghitungan suara untuk Academy Awards atau penghargaan Piala Oscar pun melibatkan firma akuntansi ternama PricewaterhouseCoopers.
Di sini akuntansi ditunjukkan sebagai unsur penting dalam berbagai bisnis, bahkan dalam dunia seni budaya.
Sementara di Indonesia sendiri, jarang sekali ditemukan produk sinema baik sinetron maupun layar lebar yang mengedukasi masyarakat dengan mengangkat tema seperti ini.
Uniknya drama manipulasi anggaran, khususnya pada organisasi sektor publik justru ditunjukkan dalam kehidupan dunia nyata.
Masyarakat disuguhi maraknya pemberitaan kasus korupsi yang berhasil diungkap maupun diproses sejumlah lembaga penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan.
Seperti kasus dugaan korupsi APBD Kota Malang baru-baru ini yang menyeret sejumlah pejabat publik menjadi tersangka.
Paparan - Ketua IAI Komda Malang Raya DR Puji Handayati saat paparan di depan peserta lokakarya di aula Bank Indonesia Cabang Malang, Sabtu (5/8/2017). Foto : malangupdate /putra
Paparan – Ketua IAI Komda Malang Raya DR Puji Handayati saat paparan di depan peserta lokakarya di aula Bank Indonesia Cabang Malang, Sabtu (5/8/2017). Foto : malangupdate /putra

Sebelum KPK turun ke Malang, kerawanan penyelewengan uang negara telah diungkapkan Ketua Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Komda Malang Raya, DR Puji Handayati SE MM AK CA CMA CIBA CSRA dalam Lokakarya “Akuntansi Di Mata Jurnalis” yang digelar atas kerjasama IAI Komda Malang Raya dan Bank Indonesia Cabang Malang, Sabtu (5/8/2017) lalu.
“Akuntansi bukan hanya tentang menghitung uang saja, namun lebih dari itu, karena akuntasi merupakan sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, memroses data menjadi laporan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada para pemegang keputusan,” terangnya.
Puji menambahkan, akuntansi ini sangat penting dalam laporan keuangan perusahaan baik perusahaan di sektor publik maupun swasta. “Laporan keuangan akan diperlukan para pengguna laporan, seperti investor, kreditor, pemasok, Pemerintah, maupun masyarakat sebagai informasi dan dasar bagi pengambil keputusan,” ujar Ketua Prodi S2 Akuntansi Universitas Negeri Malang ini.
Ia menyebutkan praktik mark-up atau cook the books menjadi pemicu utama manipulasi anggaran baik di pusat maupun daerah, meskipun secara fisik dokumennya bagus secara akuntansi. Dikatakan Puji, pada organisasi sektor publik, sistem alokasi anggaran harus tercatat dengan baik dan transparan, sehingga akan memudahkan pengawasan maupun kontrol penggunaan anggaran oleh publik.
”Pengawasan ini seharusnya dapat mencegah potensi korupsi maupun manipulasi anggaran,” tandasnya. (putra).

You May Also Like

Leave a Reply