Disabilitas Sebagai Bagian Dari Masyarakat

MALANGUPDATE-Indonesia sangat sensitif dengan isu keberagaman, khususnya yang menyangkut bidang keyakinan atau religi. Namun disabilitas sendiri kerap dilupakan sebagai bagian dari perbedaan atau keberagaman.

Hal ini diungkapkan Cucu Saidah, seorang penyandang disabilitas saat memberi paparan dalam Local Media Orientation For Journalists di Hotel Swiss-Bel Inn Malang, Jawa Timur, Jumat (23/3/2018).

Cucu mengatakan, selama ini masyarakat pada umumnya memahami disabilitas dari berbagai konsep. Mulai dari segi kultur, yang menganggap hal itu sebagai dosa atau aib, serta keadaan tidak normal dari sisi medis. “Padahal ada pendekatan yang lebih tepat, yakni individu sebagai bagian dari perbedaan, dengan hak dan subjek dalam hukum” terangnya.

Wanita yang aktif di pergerakan di seputar isu inklusi dan disabilitas ini mengakui, penyandang disabilitas, baik sejak lahir ataupun yang mengalaminya saat dewasa, mempunyai hambatan dan tantangan dalam setiap tahapan kehidupan.

“Hambatan itu timbul dari asumsi yang terbangun. Salah satunya, imbuh dia, dari segi kelembagaan yang kerap menyebutkan bahwa syarat untuk bekerja di suatu perusahaan harus sehat jasmani dan rohani, serta berpenampilan menarik. “Kriteria sehat dan  menarik harus lebih diperjelas seperti apa,” ungkap Master di bidang Kebijakan Publik dari Flinders University Australia ini.

Belum lagi banyak pendekatan yang dilakukan masyarakat lebih kepada charity atau belas kasihan saja, sehingga para penyandang disabilitas kurang digali untuk berpikir maju ke langkah berikutnya.

-Cucu Saidah saat memandu para jurnalis untuk bermain games dalam Local Media Orientation For Journalists di Hotel Swiss-Bel Inn Malang, Jawa Timur, Jumat (23/3/2018).
-Cucu Saidah saat memandu para jurnalis untuk bermain games dalam Local Media Orientation For Journalists di Hotel Swiss-Bel Inn Malang, Jawa Timur, Jumat (23/3/2018).

“Mengacu dari pemahaman bahwa penyandang disabilitas itu sebagai bagian dari keberagaman, maka pada dasarnya mereka adalah individu yang berhak mendapat keadilan,” paparnya.

Cucu menerangkan, keterlibatan aktif penyandang disabilitas di setiap sektor kelompok masyarakat harus memenuhi desain universal, yaitu rancangan sebuah lingkungan yang mengakomodir semua orang dan usia serta reasonable adjustment atau  penyesuaian layak, terkait hal-hal yang diciptakan atau modifikasi yang disediakan untuk mendukung kesetaraan serta partisipasi aktif penyandang disabilitas tersebut.

img_6689

Cucu berharap hal-hal mengenai disabilitas ini perlu dipahami para jurnalis, agar dapat menyebarkan informasi yang relevan dan akurat kepada masyarakat. ” Karena pemberitaan dapat mempengaruhi pandangan dan opini publik,” pungkasnya.

Kegiatan yang diikuti 25 jurnalis di lokal Malang ini juga menghadirkan pembicara Slamet Tohari dari Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, serta Suharto, Direktur Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel Indonesia. (putra)

Foto-foto: malangupdate/putra

You May Also Like

Leave a Reply