Tinggalan Arung Masa Hindu-Buddha di DAS Metro Dusun Watugong

MALANGUPDATE-Sebuah salura air bawah tanah kuno (arung) ditemukan di muka rumah Mobin, warga RT 03 RW 04 Dusun Watugong, Kelurahan Tlogomas,Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang di Jl. Kanjuruhan, pada hari Kamis, 27 September 2018.

Areal temuan berada di tengah lorong permukiman kecil, yang berjarak sekitar 50 meter di sebelah selatan aliran “kali purba” dan sekaligus “sungai bersejarah” Metro. Ditilk dari tempuran (pertemuan) Kali Metro dan Kali Braholo — yang juga sungai bersejarah, lokasi temuan banyak berjarak sekitar 100 meter di sebelah tenggaranya.

img-20180929-wa0044

“Menariknya, lokasi temuan ini juga hanya berjarak 50 meter di belakang Punden Watugong. Adapun lokasi Punden Watugong itu berda di permukaan atas tanah bertebing curam, yang berada di sebelah selatan tempat temuan, ungkap.arkeolog dari.Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono saat meninjau lokasi temuan, Sabtu (29/9/2018).

Menurut Dwi, tnggalan arkeologis ini boleh dibilang berada di bantaran selatan Kali Metro. Tanah di sebelah selatannya berupa tebing curam membujur timur-barat. Lantaran bertebing curam, maka dapat difahami bila dasar tebing ini memiliki potensi air yang besar kategori sumber resapan. Sayang sekali, kini tebing bagian bawahnya dibangun plesebgan batu dan lorong, sehingga gambaran adanya potensi resapan airnya tak lagi tampak. Meski demikian, petanda akan adanya potensi air itu masih sedikit terlihat, dimana langit-langit saluran air kuno di sisi timur masih terlihat basah bahkan meneteskan air.

“Saluran kuno ini diketemukan tidak sengaja, ketika dibuat lobang gali berbentuk empat persegi panjang (sekitar 3 X 5 meter) sedalam kurang lebih 3 meter dari permukaan tanah sekitar oleh warga,” terangnya. Pembuatan lobang gali ini dimaksudkan untuj tempat pembuatan dua buah sapticktank kolektif bagi warga, yang berjumlah dua buah — sebuah lainnya berada sekitar 25 meter di sebelah timurnya.

img-20180929-wa0043

Selanjutnya dilakukan perunutan terhadap lobang melorong itu, yang ternyata membentuk saluran dengan Hari berikutnya, lanjut.Dwi, Jumat 28 terlihat bahwa sebagian besar saluran kuno itu telah tertutup walet atau endapan pasir bercampur tanah.

“Upaya untuk menampakkan sosok saluran oleg para penggali tanah itu berhasil memperlihatkan data sementara bahwa indikasi ke arah timur semakin menyempit, dan sebaliknya ke arah barat kian melebar. Tinggi saluran sekitar 1,5 meter atau sedikit lebih. Langit-langit saluran melengkung, dan dasar arung mendatar berlapis pasir. Jenis tanah tergali yang menjadi dinding kanan-kiri, langit-langit maupun dasar saluran adalah tanah padas. Dengan demikian, saluran kuno ini sengaja digali secara horisontal pada lapisan tanah yang terbilang keras, yakni tanah padas,” paparnya.

Tergambar pula bahwa saluran agak merendah ke arah barat, yang jika dirunut lebih ke barat lagi, namun struktur saluran kuno yang ditemukan belum tertampakkan secara jelas, lantaran hampir seluruh lobang saluran terisi walet (tanah endapan).

“Kendati demikian, gambaran sekilas mengenai ukuran dan bentuknya mulai terlihat, baik pada dinding gali sisi barat maupun timur padamana lobang saluran kuno ini konon digali menembus tanah,” jelas Dwi.

Kondisi ini membuat ia berharap pembersihan tanah walet itu dilakukan oleh pihak yang mempunyai kompetensi arkeologis, agar tak justru merusak struktur cagar budaya ini.

Hasil identifikasi ini menunjukkan bahwa temuan arkeologis ini merupakan saluran air bawah tanah artificial (buatan) dari masa lampau. Menurut sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha (prasasti maupun susastra) untuk menamai bangunan dan struktur demikian adalah “arung”.

Indikator bahwa temuan ini adalah “saluran air bawah tanah” tergambar sebagai berikut.

Pertama, poposisi saluran berada di bawah tanah, sehingga tepat disebut dengan “saluran bawah tanah”. Salurab digali secara horisontal pada lapisan yang cukup keras, yaitu tanah padas. Jarak antara langit-langit arung yang berbentuk melengkung dan nuka tanah sekitar antara 2 hingga 2,5 meter, dengan ukuran arung pada lokasi gali untuk sapicktank adalah lebar sekitar 60 cm dan tinggi sekitar 1,5 meter. rencana pembuatan

Kedua, ada kemungkinan merupakan “saluran air” bawah tanah. Indikator keairan ditampakkan oleh (a) langit-langit arung di sisi timur petak gali dalam kondisi basah bahkan meneteskan air, (b) tanah walet pengisi lubang saluran cukup basah, (c) saluran membesar ke arah barat dan dasar arung miring perlahan ke arah barat, yakni ke mulut arung yang berada di sekitar tebing sungai sisi selatan ekat tempuran Kali Metro dan Kali Braholo, sehingga sangat boleh jadi aliran air di dalam arung menuju ke barat ke arah mulut arung.

Ketiga, bila benar mulut arung berada di sekitar tebing sisi selatan Kali Metro, dan menilik lobang arung yang membesar ke arah barat (mengecil ke ke timurr), ada kemungkinan lubang arung dibuat dari barat ke menuju ke timur agak serong ke selatan. Titik tuju arah galian lobang arung adalah pusat potensi air tanah (punjering banyu) yang berada di lembah tebing curam di seberang selatan aliran Kali Metro. Dengan demikian, ada kemungkinan arung dibuat sebagai kanal untuk perlancar penangkapan air tanah yang sekaligus nerupakan air bersih, dengan areal tampung air bersih di mulut arung.

Dwi menjelaskan latar belakang penemuan arung ini, yang konon diyakini sebagai sungai suci, yang airnya diidentikkan dengan “tritramreta (air kehidupan, air keabadian)”. Sejak masa Bercocok Tanam di Zaman Prasejarah, kemudian memasuki Masa Hindu-Buddha, dan seterusnya hingga sekarang lembah dan sekitar DAS Metro menjadi areal bermukim, sekaligus ajang aktifitas sosial-budaya lintas masa.

img-20180929-wa0045

“Bahkan, pusat pemerintahan kerajaan (kadatwan) tertua di Jawa Timur, yakni Kanjuruhan, berada di DAS Metro, yang jaraknya kurang dari 1 km dari lokasi tenmuan ini. Demikian pula, Kali Braholo yang bermuara ke Kali Metro juga merupakan sungai bersejarah. Dengan demikian arung ini berada di areal bersejarah. Yang patut untuk disimak adalah temuan arung berada di dekat pertemuan (tempuran) Kali Metro dan Kali Braholo,” bebernya.

Lokasi temuan hanya berjarak sekitar 50 meter di utara Punden Watugong, yaitu cungkup untuk pengumpulan umpak-umpak (pelandas tiang) dari batu andesit yang bentuknya menyerupai waitra gong, sehingga disebut “Watugong”, yang kini dijadikan nama dusun ini. Tinggalan dari tradisi budaya megalitik tersebut diitempatkan bersamaan dengan artefak-artefak dari Masa Hindu-Byddha. “Ini menjadi petunjuk bahwa areal sekitar temuan arung berupa permukiman dan ajang sosial-budaya sejak perkembangan Megalitik di penghujung Zaman Prasejarah dan Masa Hindu-Buddha. Bukan tidak mungkin air bersih yang ditampung di mulut arung ini konon dimanfaatkan oleh masyarakat peemangku budaya Hindu yang tinggal di sekitar pertemuan Kali Metro dan Kali Braholo,” ujar dia.

Tentu masyarakat purba itu membutuhkan air bersih, yang untuk kepentingan dibuat arung yang kini diketemukan.

Lokasi temuan juga berjarak dekat (sekitar 0,5 km) dari situs Wurabdungan yang berada di DAS Kali Braholo. Wurabdungan (kini “Kandungan”) adalah salah satu desa yang menurut informasi prasasti Ukirnegara (Pamitoh) dari akhir masa pemerintahan kerajaan Kadiri (akhir abad XII Masehi) telah ditetapkan sebagai desa perdikan (suma, swatantra). Begitu pula di sekitar mulut gang menuju ke temuan arung juga dijumpai artefak yang berasal dari Masa Hindu-Buddha.

“Tinggalan arkeologis tersebut semakin menguatkan urgensi arung ini untuk menopang kelangsungan hidup warga yang konon bermukim di areal yang kini dinamai Dusun Watugong,” tandasnya. (putra).

Foto-foto: ist

You May Also Like

Leave a Reply