Sebuah Jawaban Lewat Buku Wardiman Djojonegoro

Keterangan foto: Foto 01-02 JP/NEDI PUTRA AW REKAMAN PERJALANAN-Buku Sepanjang Jalan Kenangan yang dikemas dalam gaya buku otobiografi atau sudut pandang orang pertama. Buku ini terdiri dari enam bagian berdasarkan kurun waktu.
Malangupdate/putra
REKAMAN PERJALANAN

MALANGUPDATE – Sebuah pertanyaan sederhana dari seorang siswa SMP ternyata cukup membuat Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan  Wardiman Djojonegoro berpikir panjang untuk menjawabnya.

Pada sekitar tahun 1994, seorang siswa SMP bertanya kepada kepadanya. “Saya dari koran sekolah pak Menteri. Dapatkah Bapak menceritakan kunci sukses Bapak selam ini agar menjadi insprasi dan motivasi kami,” tanya dia.

Wardiman pun tertegun, ia merasa pertanyaan yang diajukan ini mengenai pengalaman pribadinya sendiri.

Itulah pengantar bukunya yang berjudul Sepanjang Jalan Kenangan: Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar Bangsa. Buku ini dikemas dalam gaya buku otobiografi atau sudut pandang orang pertama, yang terdiri dari enam bagian berdasarkan kurun waktu.

“Saya rasa, buku yang menampilkan kisah perjalanan hidup saya sejak lahir hingga sekarang ini, merupakan jawaban yang paling tepat dari pertanyaan siswi itu,” ungkap Wardiman dalam diskusi di gedung Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur Minggu, 18 September 2016 lalu.

 Pria yang lahir 22 Juni 1934 di Pamekasan, Madura, Jawa Timur ini menjelaskan, beberapa hal yang menjadi bagian dari sejarah Indonesia yang tertulis dalam bukunya dalam diskusi yang  menghadirkan peserta dari kalangan akademisi serta anak-anak sekolah ini.

Selama lebih dari 30 tahun, Wardiman bekerja sama dengan tiga tokoh Indonesia yang membuat sejarah. Saat bersama Gubernur DKI Ali Sadikin, kemudian bersama Menteri Riset dan Teknologi  (Menristek) dan terakhir dengan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) BJ Habibie, serta sebagai Menteri Kabinet VI bidang Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden Soeharto.

Kisahnya, pada kurun waktu 1966-1988,  selama 13 tahun di Biro Kepala Daerah Pemerintah DKI, Wardiman bekerja dengan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, membangun Jakarta menjadi Dusun Besar atau “The Big Village“.

Ia  pun pernah menjadi teman sekamar BJ Habibie saat kuliah di Jerman pada tahun 1960-an. Bahkan saat Habibie menjadi Menristek, Wardiman diangkat menjadi asistennya yang berlanjut hingga  pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Malang.

Namun Wardiman mengaku, sejak buku diluncurkan pada 12 Mei 2016 di Jakarta lalu, justru yang paling banyak ditanyakan pembaca adalah periode sebagai Mendikbud, pada tahun 1993-1998.

“Mulai pro-kontra dari sejumlah kalangan terkait penunjukkan saya yang seorang insinyur teknik menjadi menteri pendidikan, lalu kebijakan keterkaitan dan kesepadanan (link and match), hingga perubahan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi universitas,” urainya.

Wardiman menjelaskan, program link and match ini adalah upaya agar pendidikan sebagai bekal penting kesiapan di dunia kerja tidak salah arah.  Jika mengingat ucapan Bung Karno cita-cita memang harus digantungkan setinggi langit, namun jangan sampai membuat anak-anak selalu terbuai dengan cita-cita yang cenderung klise.  “Coba anak-anak diarahkan nantinya bercita-cita menjadi  peneliti atau pengusaha misalnya,” tambah dia. Kuncinya adalah mengisi cita-cita tersebut dengan perencanaan dan kerja keras.

Program link and match ini sesuai dengan saran Habibie, yakni pakailah aset yang paling berharga yakni sumber daya manusia, jika ingin jadi bangsa hebat .

Ada pula kisah yang cukup memberi sensasi menegangkan baginya, yaitu pada saat kelahiran Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Universitas Brawijaya di Malang pada tahun 1990.

Pria yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Putri Indonesia ini  menuturkan, pelajaran yang bisa dipetik dari buku ini adalah selalu lakukan yang terbaik (do your best), dan selesaikan dengan penuh komitmen, dan hilangkan tuntutan pamrih.

Wardiman berpendapat para tokoh tersebut  punya arti masing-masing dan sulit untuk dibandingkan. Ali Sadikin,  sosok militer yang  mengayomi masyarakat tanpa menerapkan visi militer. Habibie merupakan tokoh yang membangun bangsa melalui imu pengetahuan dan teknologi.

Sedangkan dengan Soeharto, yang bagaimanapun juga merupakan tokoh besar bangsa ini. “Saya punya banyak pengalaman berharga,” pungkas dia.

You May Also Like

Leave a Reply