UB Kembangkan Durian Unggul di Ngantang dan Kasembon

MALANGUPDATE-Kawasan Kasembon dan Ngantang, yang berada di ujung barat Kabupaten Malang, Jawa Timur dikenal sebagai penghasil buah durian.

Pada kedua kecamatan ini, jumlah jenis durian unggul lokal cukup banyak ditemukan. Bahkan setap tahun atau musim jumlahnya cenderung terus bertambah.

Sebagian besar pohon durian di kawasan tersebut didominasi pohon yang yang ditanam berasal dari biji. Hal ini menjadi perhatian tim dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, yang melakukan pengadian masyarakat sejak 10 tahun terakhir di sana. “Menurut ilmu genetika, pohon asal biji menghasilkan mutu buah beragam dan produksi yang masih labil,”ungkap Professor Sumeru Ashari dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Selasa (20/3/2018).

universitas-brawijaya-malang-kembangkan-jenis-durian-unggul-03_nedi-putra-aw

Oleh karena itu, melalui penelitian di Agro Techno Park, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya mengembangkan seleksi buah durian unggul agar bisa diperbanyak lewat okulasi, maupun stek sehingga sifat buahnya lebih dominan buah unggul dibanding pohon asalnya.

Saat ini ada sedikitnya enam jenis durian hasil seleksi yang telah dikembangkan, yakni Jingga, Arab, Sepanjang Musim, Cikrak, Kunir dan Hibrida yang merupakan persilangan Montong dengan durian merah asal Kalimantan.

“Beberapa sudah ditanam di lahan seluas 2 hektare di Desa Waturejo, Kecamatan Ngantang, sebagai konservasi plasma nutfah,” terang Ketua Agro Techno Park ini.

Menurut Sumeru, jenis-jenis ini akan didaftarkan ke Kementerian Pertanian melalui mekanisme Pendaftaran varietas Pertanian (PVT), agar dapat memberi kontribusi peningkatan jumlah varietas durian, yang telah dirilis sebanyak 81 varietas sejak 1984 lalu. “Namun Setelah jadi varietas ada konsekuensi dengan persiapan dana untuk pengembangannya dari Pemda setempat,” tegasnya.

universitas-brawijaya-malang-kembangkan-jenis-durian-unggul-01_nedi-putra-awSumeru mengaku saat ini pengembangan difokuskan pada durian unggul lokal, agar dapat berbuah di luar musim atau off season, agar memudahkan pemasaran kepada konsumen dengan produksi yang berkelanjutan.

Sementara itu, Amad, 64, seorang petani durian di desa Waturejo mengaku sangat berterima kasih dengan adanya bantuan bibit hasil seleksi maupun penyuluhan dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya ini. “Selain buahnya lebih enak, harganya pun bisa lebih mahal,” ujarnya.Saat ini harga durian lokal sekitar Rp. 25.000 – 75.000 per bijinya.

“Tapi kalau enak, kadang-kadang saya bisa menjual paling tidak hingga Rp 100 ribu per buahnya,” tandasnya. (putra)

Foto-foto: malangupdate/putra

 

 

 

You May Also Like

Leave a Reply