EDDY PRANA “Berkesenian Berbekal Spirit Budaya Jawa”

Malangupdate.com – Boleh jadi Eddy Prana bukan siapa-siapa; Tapi, boleh jadi pula Eddy cukup pantas kalau dimaknai sebagai sebuah fenomena mengesankan dalam jagad kesenian di Indonesia, setidaknya di kota Malang. Sebuah komentar Agus Dermawan T, curator, dalam sambutan pamerannya Eddy bahwa karya-karya lelaki ini cenderung surealisme yang dipakainya sebagai alat melantunkan petuah-petuah. Karya Eddy serupa tuturan atau nasehat kepada apresiannya, disinilah letak keunikan karya surealismenya. Memang surealisme Eddy tidak sebagaimana surealismenya Salvador Dali atau Rene Magrite. Selain keunikan itu, tentu akan segera pembaca jelajahi dari kalimat-kalimat berikut ini. Tulisan ini dimaksudkan sekedar mengantar mendekati sosok yang unik dan “menarik” ini. Eddy Prana mengaku lahir di Malang tanggal 19 September 1956, sehingga banyak peristiwa kesenian di kota ini yang ia ketahui. “Tahun 70-an saya masih remaja. Jadi masih ‘njamani’ sanggar ‘Candra Kirana’ yang terletak di jalan Kayu Tangan, Malang. Di sanggar itu saya bertemu pak Iskak dan pak Effendi yang saya anggap  guru lukis pertama saya.” Ucap Eddy mengenang sanggar legendaris itu.

eddy 3

Sesungguhnya, garis kesenimanan Eddy tampak jelas. Bapaknya bernama Marto, seorang pelawak ketoprak yang acapkali melawak secara tunggal, semacam stand up comedy jaman sekarang. “Dalam dunia ketoprak, Bapak saya mendapat nama panggilan ‘Sarengat Marto Disastro Umar Kaltiri bin Marmer Saehek’…hehe namanya panjang dan terasa lucu, ya.”Ucap Eddy menyeringai, “Bapak itu seniman tradisi yang lucu, baik hati sehingga temannya banyak. Di wilayah Jawa tengah beliau cukup popular, salah satu teman akrabnya almarhum pak Siswo, pendiri Ketoprak ‘Siswo Budoyo’ yang terkenal itu. Bapak kelahiran Purworejo, Jawa Tengah tahun 1911. Kalau ibu dari Jogja, namanya ‘Pareng’, beliau tinggal di daerah Wijilan, PB I/155, dalam kompleks Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dan sampai hari ini rumah keluarga masih ada. Ibu itu laiknya perempuan Jawa yang sabar dan suka membatik. Jemarinya terampil mengantarkan lilin lewat mulut canting menuju kain morinya.” jelas laki-laki berkumis ini seraya memberitahu bahwa dirinya masih menyimpan “canting” (alat membatik) dan beberapa lembar kain batik tulis hasil karya ibundanya, “Saya masih menyimpan baik alat batik dan kain karya batik ibu sebagai ‘jimat’ untuk mengenang ibu yang melahirkan saya. Bakat seni ibu dan Bapak mengalir kembali dalam diri saya, padahal dari sepuluh saudara, hanya saya yang terjun ke dunia seni,” tandas Eddy.

eddy 4

eddy 5

Sebagai seniman Eddy dikarunia “multi talenta” atau bakat yang beragam. Ia pandai melukis. Beratus-ratus lukisan sudah lahir dari tangannya. “Saya suka melukis secara realis dengan detilnya. Bagi saya detail itu menjadi tantangan tersendiri. Kalau soal isme, saya nggak pernah memikirkan.” Kata Eddy sambil menunjukkan beberapa lukisan yang menggantung di rumahnya, jalan Teluk Gorontalo 14, kota Malang. “Karya saya yang ukuran kecil-kecil ini realis dengan obyek pemandangan untuk ‘dodolan’ (jualan) semata, sebab banyak tamu yang datang suka membeli lukisan semacam ini untuk hiasan rumah atau untuk souvenir. Selain itu juga untuk mensiasati agar ‘asap dapur’ saya tetap ngepul hehe, Lain lagi dengan lukisan yang ini, lebih ke surealis, “ terangnya sambil menunjukkan sebuah lukisan bertahun 1991, ukuran 50 x 60 cm yang menggambarkan suasana kesunyian di pinggir pantai dengan back ground langit biru gelap, berkabut terkesan misteri. Dalam karya bagus itu, tergambar dua buah karang yang saling berjauhan mengapit sebatang “gantangan” burung dari bambu yang patah. Di sela-sela bambu itu terdapat sebuah sangkar burung yang pintunya terbuka dan hendak roboh. Sementara di langitnya nampak seekor burung merpati putih tengah mengepakkan sayapnya seolah baru saja terbebas dari sebuah keterikatan. “Saya ingin menyuarakan arti sebuah kebebasan,” komentarnya singkat.

Lain lagi dengan sebuah lukisan yang menggantung di dinding dalam. Karya ini boleh dibilang simbolistik, sebuah karya yang penuh sindiran politik kebudayaan, menggambarkan langit biru dengan seekor ikan dengan muka harimau dan sirip mirip bulu merak serupa kesenian Reog Ponorogo. Badan ikan diberinya garis-garis merah dan putih laksana bendera Indonesia. “Di lautnya saya gambarkan seekor kucing cantik tengah berselancar dengan papan yang bergambar bendera Negara Malaysia. Tak cukup itu, saya lukisi pula sebuah rentang kawat berduri melayang di atas lautan yang saya maksudkan sebagai pembatas sebuah negara. Semoga dengan simbol-simbol itu dapat menterjemahkan peristiwa klaim kebudayaan milik kita oleh Negara lain dengan segala dampak hukumnya.”

eddy 7

 

Di bawah lukisan itulah berjajar patung kecil-kecil dari ranting kayu jati yang menggambarkan tokoh, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, sang Punokawan. “Semua patung itu terbuat dari ranting kayu Jati. Kalau saya lagi jenuh, saya biasanya kerja ketrampilan semacam ini. Tak hanya patung ‘Punokawan’, ada juga golekan kayu yang menggambarkan sepasang manusia Jawa dengan busana khasnya. Kalau saya lagi mengerjakan Golekan Kayu ini, selalu muncul kenangan lama, waktu saya kecil dimana ibu sering mengajak saya ke pasar dan bmembelikan golekan-golekan semacam itu.” Kenang Eddy sekilas akan ibunya, “Ibu adalah segalanya bagi saya. Waktu beliau ‘mangkat’ (meninggal) saya sangat terpukul.” Kini Eddy masih menyimpan utuh semua kenangan itu dan setiap saat dapat ia ulang dengan caranya sendiri lewat karya-karya “Punokawan” maupun “Golekan Kayu”-nya.  “Sekarang saya tengah mengerjakan wayang Petruk dari kayu jati yang niatnya saya berikan pada pak Manteb, Dalang wayang kulit yang kesohor itu. Petruk ini simbol pak Manteb sendiri.” Ucap Eddy menjelaskan bahwa dirinya cukup dekat dengan Dalang kondang tersebut. “Saya pernah tinggal di Sragen belasan tahun dan sempat berkecipung dalam dunia ‘karawitan’, sampai akhirnya kenal akrab dengan banyak pelaku seni tradisional di sana, termasuk pak Manteb dan pak Anom Suroto “.

Prof. H. Muhammad Yamin Alm pernah berkata, “Orang Timur pulang kepada kebudayaan Timur” (Mohammad Yamin, 1985:74). Artinya sejarawan sekaligus poitikus besar ini berfikir pada Kerpibadian Bangsa, sebagai Bangsa Indonesia yang besar, sejatinya kita lebih arif dan bijaksana menjadi dirinya sendiri dengan ‘mengenakan’ kekayaan budayanya sendiri sebagai identitas. Kita lebih pantas memakai milik sendiri, entah itu kebudayaan Minang, kebudayaan Jawa, kebudayaan Bali, kebudayaan Papua dan banyak lagi. Begitu pula dengan Eddy Prana, ia sadar bahawa dirinya adalah orang Jawa yang mesti menjunjung tinggi kebudayaan Jawa, “Kehidupan saya tak bisa lepas dari budaya Jawa, maklum ibu dan bapak saya kan beretnis Jawa. Saya terlahir dari keluarga Pembatik. Dalam hal batik, saya setuju dengan pernyataan pak Kuswaji, adiknya pak Bagong Kusudiardjo yang terkenal itu. Beliau menyatakan bahwa dalam kesenian, membatik itu hanya salah satu cara menuangkan maksud hati lewat ‘lilin, canting dan pewarna’. Hasil karyanya disebut kain batik dan itu bisa bersifat seni murni namun juga bisa bersifat kerajinan, tergantung niatan seniman pembatiknya. Saya setuju dengan pemikiran ini.’ tandas Eddy perihal prinsip seni Batik-nya di tahun 1990-an. Karena itu ia bersama-sama temannya, Harjiman alm. cs. bersama mengembangkan Lukisan Batik di daerah Taman Sari, Jogja. “Eddy itu seniman yang terampil dengan berbagai skill, melukis, mengukir, interior design, membatik dan banyak lagi,” terang bung Yon, teman karibnya yang seniman, “dia seniman yang perfectionis dan seringkali menunjukkan ketrampilan lewat detil-detil garapannya.”

Eddy Prana tak dapat dipungkiri memang memiliki perjalanan kesenian cukup panjang. “Setelah lulus SMA Petra di kota Malang, saya semula hendak melanjutkan ke sekolah seni di Yogyakarta, tapi orang tua tidak setuju. Karena saya terlanjur cinta dengan seni, maka saya tetap ke Yogya untuk ‘nyantrik’ (tinggal bersama sambil menimba ilmu) ke para pelukis-pelukis di sana. Tuhan bermurah hati, memberi saya kesempatan bertemu  dengan para seniman papan atas di Indonesia. Mereka itu Antara lain pak  Dullah ‘cacing’, pak Affandi dan pak Hendra Gunawan dan banyak lagi. Saya bertahun-tahun ‘nyantrik’ dan  mempelajari perjalanan kesenian mereka, sampai akhirnya saya memahami perihal kesenian.” Jelas lelaki peng-hobby batu akik ini. “Saya menyadari bahwa seni adalah bagian dari hidup saya yang pantas saya syukuri.” Kalau ditelisik lebih jauh, perjalanan hidup Eddy sejak dari lahir sudah ‘berkubang’ dalam dunia seni. “Sejak SD saya sudah pintar menggambar. Saya SD di sekolah Katolik St. Donisius Celaket” Malang, Pernah ibu guru yang namanya bu Kasipu meminta saya untuk menggambar potret orang-orang suci Katolik di kertas lalu dibingkai kayu untuk dipasang di dinding-dinding kelas. Tentu hal ini membanggakan sekali,” kata lelaki bermata bundar ini berkenang ria, “Lulus dari SD, saya melanjutkan ke SMP Negeri 7 di Malang. Di sekolah itu kebetulan sekali ada kakak saya sebagai wali kelas dan di sekolah ini pula ada peristiwa heboh akibat kenakalan saya sebagai anak menjelang remaja. Ceritaya begini: Suatu hari kami mengadakan camping di sekolahan. Malam harinya karena udara kota Malang waktu itu cukup dingin, saya dan teman-teman punya ide untuk ‘bakar jagung ‘. Ide ini muncul karena kebun Jagung di pinggir sekolahan tengah berbuah dan siap panen. Lalu tanpa pikir panjang kami ramai-ramai ‘mengambil’ jagung dari kebun itu. Sebagai bakarnya saya dan teman-teman mengumpulkan ‘keset-keset’ di bawah pintu kelas, kaki-kaki meja dan bangku sekolah yang sudah rusak untuk dibakar. Singkat kisah ‘pesta jagung’ itu sukses dan meriah. Namun esok paginya ternyata ada yang melapor ke pihak kepala sekolah. Selidik punya selidik ketahuan juga siapa pelakunya. Saya dipanggil kakak saya yang mewakili sekolah dan dimarahi habis-habisan. Tidak berhenti di situ, hukuman yang lebih berat dijatuhkan dengan mencukur rambut saya acak dan tidak rapi sama sekali. Hal ini membuat saya malu pada teman-teman kelas. Sejak itu saya memutuskan untuk pindah sekolah dan saya memilih ke SMP Negeri 5 Malang.” Begitu gambaran kenakalan Eddy di masa kecil.

Kenakalan pada anak-anak seringkali diidentikkan dengan pola kreatifitas yang tidak tersalurkan. Kenakalan disini berbeda dengan ketidak sopanan atau kekurangajaran. Kenakalan Eddy semasa SD rupanya terbawa-bawa sampai ke jenjang SMA. “Pernah karena sekelas tidak mau memberi saya tumpangan pada saya, ban sepeda mereka saya ‘gembosi’ semua. Akibatnya semua rame-rame memompa ban sepedanya dan itu membuat semua tertawa. Pada peristiwa ini teman-teman kelas tidak marah ke saya lho, kami tetap bersahabat. Memang yang sedikit keterlaluan dari tindakan saya adalah ketika menggembosi ban sepeda kepala sekolah. Ceritanya karena saya membuat gaduh di kelas, beliau tiba-tiba marah dan melempar penghapus papan tulis ke arah saya. Hati muda saya panas, besok paginya saya balas dengan menggembosi ban sepedanya…hahaha.” Kisah-kisah sekolah ini banyak dituturkan Eddy dengan sangat jelas, menunjukkan tingkat kemampuan rekam otaknya yang baik.

Tahun 1990 Eddy Prana melanjutkan perjalanan ‘mimpi’nya ke Jakarta, ibu kota yang konon banyak menawarkan kemungkinan. Dengan bekal keberanian dan kemampuan kreatif-nya, lelaki muda ini menyatakan siap berpetualang kesenian di sana. “Petak petak markas kesenian saya datangi, dari ancol pindah ke TIM lalu ke Bulungan dan banyak tempat yang sudah terlupa. Yang jelas, di Jakarta ini saya mengenal pak Sulebar, pelukis Abstrak yang kondang itu. Juga pak Nazar, Jonny Barata dari Malang yang kini berprofesi lain. Saat itu saya sudah terbiasa pulang balik Jakarta – Jogja dan Sragen”.  Sampai suatu hari Eddy mulai jenuh ‘merantau’, dipilihlah kota Sragen, kota kecil di Jawa Tengah yang terkenal dengan batiknya itu sebagai persinggahan dirinya. Di kota kecil ini, hari demi hari dilalui dengan nyaman sebagai seniman dan tanpa terasa hal itu sampai 15 tahun. Sebagai seniman secara kreatif Eddy sengaja menceburkan dirinya ke berbagai komunitas seni tradisional yang ada di kota kecamatan itu. “Saya bergaul dengan banyak pelaku kesenian Jawa, banyak kenal dengan para sesepuh kebathinan, para dalang, pengrawit bahkan para sinden yang cantik-cantik itu. Di kota inilah saya akhirnya kenal akrab dengan Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedarsono yang terkenal dengan ‘sabetan setan’-nya itu. Saya sering ke rumah beliau-beliau ini untuk bertukar pikiran dan mematangkan jiwa kesenian saya.” Kenang lelaki berkulit sawo matang ini mantab, “ Saya masih ingat setiap ‘weton Rebo Legi’ selalu ada acara sarasehan di rumah ki Anom Suroto dan setiap weton Sabtu Paing di kediaman ki Manteb, kedua acara ini selalu diadakan secara rutin dan bergiliran. Saya pikir dengan hal seperti ini kesenian tradisi dapat terjaga bahkan berkembang dengan baik.”

Kini sebagai seniman yang juga pengrajin, Eddy Prana terbilang sudah matang, artinya telah menapaki garis hidupnya sendiri secara pasti. “Saya tak bisa kerja lain. Tarikan hati untuk berkesian Terkait pameran lukisan, saya pernah meminta Ki Manteb Soedarsono untuk membuka pameran tunggal saya di Jakarta. Karena settingnya adalah pewayangan, maka kepiawaian pak Manteb tentu tidak perlu diragukan lagi. Kalimat-kalimat ‘udaran’ filosofi pewayangannya begitu indah dan memunculkan greget obyek yang ada dalam lukisan-lukisan yang saya pamerkan tersebut. Memasuki babak akhir, dengan cerdas ki Manteb menunjukkan kekuatan lukisan saya yang berjudul “Piranti” dan mengarahkan untuk dikoleksi pak Jendral Wiranto. Tentu yang ditunjuk mengangguk-angguk setuju, dan saya tersenyum…laku!” begitu salah satu kenangan manis dalam pameran Eddy, “tak cuma itu, hal yang sama juga dilakukan kepada Bambang Widjanarko, beliau juga di tunjukkan sebuah karya saya berjudul ‘Curiga Manjing Warangka’. Lagi-lagi jitu cara yang ditempuh Ki Manteb. Hehehe”

Terkait pameran lukisan, Eddy Prana banyak menimba ilmu dari beberapa temannya, seperti pak Bagus yang manajer salah satu Koran Nasional dan pak Asikin yang asal Blora. “Mereka mengajari saya untuk menggunakan system manajemen modern dalam penyelenggaraan pameran. ‘Jangan seniman mengurusi sendiri segala-segala dalam pameran. Tidak bisa, Pelukis itu tugasnya ya melukis dengan baik. Lha masalah pameran itu mesti diserahkan pada organizer atau manajernya. Seringkali dalam pameran pelukis ngundangnya pelukis. Itu boleh tapi tidak semua kan? Harus orang-orang yang berduit dan pecinta lukisan. Dari situlah akan terjadi transaksi penjualan sehingga Pelukis bisa hidup.’ Begitu komentar pak Asikin kepada saya. Sejak itu memang saya selalu menerapkan apa yang diajarkannya, hasilnya tentu jauh lebih memuaskan.” Tutur Eddy mengisahkan pelajarannya tentang pamarean. “Kalau dipikir ya, mas. Seniman kalau bekerja itu harus total dan serius, nanti kalau sudah jadi karya ya silahkan dikemanakan. Maksud saya seniman itu butuh idealis namun juga harus realistis dalam hidupnya.”

Eddy dalam keseharian memang terlihat rapi. Hidup dilakoninya dengan prinsip yang dituturkan ki Manteb kepadanya di belasan tahun silam.

“Le, kowe yen wedi ojo wani-wani, mung, yen wani ojo wedi-wedi”

(Nak, kamu kalau takut jangan berani-berani,Tapi kalau berani jangan takut-takut)

Makna nasehat ini tentu sangat dalam, sebab ketika kita coba menisik lebih jauh pemahaman di atas, maka dapat disimpulkan bahwa janganlah kita jadi orang “peragu”, orang yang tidak punya nyali, orang yang tidak berani bersikap alias bertanggung jawab. Kehidupan ini sejatinya adalah proses dimana kita sebagai khalifah diwajibkan untuk selalu berjalan, artinya mengasah berbagai ilmu, mengasih artinya menerapkan ilmu tersebut untuk tujuan kemanusiaan dan mengasuh kehidupan itu sendiri sebagai jalan dan bekal kelak ketika kembali ke haribaan. Eddy mengerti betul apa yang diucapkan sahabatnya itu dan dijadikan pegangan dalam hidupnya sampai dengan sekarang, termasuk menentukan pilihan hidupny sebagai sorang seniman dan pengrajin sekaligus. Prestasi telah dicapainya sejak tahun 1992 sampai 2005, kala itu ia tinggal di kota kecamat Sragen dan berhasil mendirikan sentra kerajinan Wayang Klitik dengan anggota sebanyak 40 pengrajin. “Saya sebenarnya berharap di Malang juga bisa melakukan hal serupa, sebab itu akan meningkatkan taraf hidup banyak orang,” ucap Eddy seolah bermimpi.

eddy 1

Dalam catatan perjalanannya, tahun 1976 sampai tahun 1986 ia beraktifitas kesenian di Jogjakarta, Bali, Bandung dan Jakarta. Tahun 1986 – 1989 Eddy hidup dan berkarya di Turki dan Belanda, Tahun 1992 ia mulai menetap di Sragen sampai tahun 2005. Baru setelah itulah ia menetap di kota kelahirannya kembali di Malang bersama sang Istri. Di era Orde Reformasi kemarin, hasil karya Eddy yang berupa boneka dari kayu jati (Punokawan) banyak diorder Istana Cikeas, dijadikan salah satu bentuk cendramata untuk tamu-tamu Negara. “Wah waktu itu sebulan saya masih bisa kirim 20 set lebih, bahkan kadang ketambahan market Eropah dan Amerika. Satu set isinya Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Tapi sejak orde itu lewat ya habis…hehe dan Sekarang tinggal order dari awam dan itupun kecil.” Pungkasnya trenyuh.

eddy 10

Malang, 28 Desember 2015

Ditulis oleh: Bambang AW

You May Also Like

Leave a Reply