REFLEKSI KESENIAN ALMARHUM IMAM MUHAJIR “SIKAP & KARYA DI MATA PARA SAHABATNYA”

MalangUpdate.com – Siapa dan apa peranan almarhum pak Imam Muhajir dalam kasanah Senirupa di kota Malang bahkan mungkin di Indonesia? Rasanya bab-bab inilah yang penting untuk kita bicarakan dan kita sebar-luaskan kepada khalayak ramai, agar perjuangan, kecintaan dan semangat beliau dalam membangun bangsa lewat dunia seni rupa dapat diteladani, sekaligus dapat menimba spiritnya sebagai pemicu semangat berkesenian di dada para seniman, khususnya dikota Malang tercinta ini.

IMG-20160418-WA0024 IMG-20160418-WA0025

Suatu sore, tanggal 24 Maret 2016, tepatnya jam 17.31 WIB; saya mendapat SMS dari Bung Yon Wahyuono, seniman abstrak empresionis kota Malang, yang mengabarkan bahwa pak Imam Muhajir, dosen yang juga seniman senior kita dalam kondisi kritits karena sakit. Lalu esok harinya, tgl 25 Maret 2016, saya kembali mendapat SMS Bung Yon. Kali ini isinya kabar duka, bahwa telah meninggal dunia dengan tenang sahabat kami, Drs. Imam Muhajir, pria kelahiran Malang 69 tahun yang lalu. Setahu penulis, lelaki berperawakan kecil ini sangat rendah hati. Kecintaannya pada dunia seni sudah dibuktikan dengan serius dan dengan penuh dedikasi. Selepas SMA, Muhajir muda memilih masuk menjadi mahasiswa seni rupa di IKIP Malang. Beliau tercatat sebagai angkatan pertama pada jurusan tersebut. Almarhum pak Imam Muhajir bersama pak Agoes Hadisuryo dan pak Anthony Wibowo di kemudian hari sepakat mendirikan sanggar “Arti”, sebagai media pergerakan kesenian mereka di kota ini.

 

Kematian sering ditafsirkan sebagai titik akhir “perjalanan” seseorang, namun bagi seorang seniman hal itu dapat dimaknai berbeda. Kematian bagi seorang seniman merupakan masa sublimasi atas karya-karyanya untuk kemudian dilakukan dialogis dengan masyarakatnya. Secara esensi, sebuah karya dilahirkan seniman adalah merupakan perwujudan dari pemikiran dan isi hatinya dalam memaknai kehidupan secara estetik. Begitu pula karya almarhum pak Imam Muhajir, tentu dapat dimaknai sebagai wujud dari gagasan, pemikiran dan ungkapan rasa hati beliau dalam memaknai persoalan hidup. Pokok persoalan semacam ini tentu sudah disampaikan beliau di kampus, di ruang-ruang pamer atau dalam tulisan-tulisannya didalam katalog pameran. Karya-karya lukis almarhum pak Imam Muhajir akan terus “hidup”, berdialogis dan tak pernah mati. Karya-karya abstraknya akan tetap dapat kita baca, kita kaji, kita ajak berdialektik secara intelek dan pada akhirnya bisa terpahami pesan-pesan (konsep), nilai-nilai dan kekuatan estetik di dalamnya.

IMG-20160418-WA0030

Secara awam, mungkin karya-karya abstrak almarhum tampak seperti asal, bermain-main seenaknya dengan bidang geometri atau dengan komposisi warna dan tidak menyampaikan apa-apa. Namun, sebaliknya bagi mereka yang mengerti dunia seni rupa atau minimum mencintainya, maka karya-karya almarhum akan bisa dimengerti, dirasakan bahkan dikagumi. Karya-karya abstrak yang ia lahirkan sesungguhnya melalui proses panjang, sepanjang perjalanan hidup kesenian almarhum pak Imam Muhajir sendiri. Perlu diketahui, bahwa kerja seorang seniman biasanya diawali dari pengamatan atas permasalahan lingkungan tempat ia tinggal, lalu memulai dengan mengkonsep dan pemilihan media, pemantapan (sublimasi) kemudian berlanjut ke sketsa dan seterusnya yang cukup rumit dan penuh pertimbangan pribadi. Dalam hal ini secara teori keilmuan dan secara kajian empirik apa yang dilakukan almarhum jelas dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

 

Pada tanggal 16 April 2016 yang baru lalu, bertempat di Museum & Galery “M. Sattar”, jalan Veteran Dalam 6, Malang, diadakan acara “Refleksi Kesenian Almarhum pak Imam Muhajir”. Dalam kesempatan ini disisipkan acara bedah buku berjudul “Apa Itu Seni Rupa Hari Ini?” karya DR. Djuli Djatiprambudi. Pokok acara di sore itu tetap pada “Refleksi Kesenian almarhum Imam Muhajir”, yang dinarasumberi oleh sahabat-sahabat almarhum, antara lain: pak Anthony Wibowo, Bung Yon Wahyuono, pak Didik Mintadi, ibu Liliek Indrawati, pak Slamet Henkus, pak M. Sattar, pak Mistaram dan pak Suhardjo. Acara ini berjalan cukup ‘gayeng’ dan dihadiri para mahasiswa, mantan mahasiswa beliau, teman-teman dosen, para sahabat seniman, curator dan pecinta seni. Semua audiens tampak antusias mendengar perkisahan yang pernah dialami masing-masing nara sumber ketika bersama almarhum.

IMG-20160418-WA0032

Dimulai dengan pembacaan doa oleh bapak Mistaram yang begitu menyentuh, kemudian disusul dengan perkisahan pengalaman Bung Yon Wahyuono sebagai sahabat dekat almarhum. Bung Yon, seniman gaek ini, mengaku terkesan dengan sikap-sikap kehidupan, kesenian dan kepribadian almarhum semasa hidupnya yang begitu jurjur, sederhana namun “tertutup”. Dikisahkan selanjutnya demikian: “Kesan saya, almarhum pak Imam Muhajir itu orangnya pintar dan cerdas. Beliau mampu membius orang lain untuk mendengar ceritanya tentang sejarah seni rupa Timur dan Barat secara meyakinkan. Orang seringkali hanyut atas hal itu, misalnya ketika beliau bercerita tentang lukisan-lukisan di dinding gua-gua Altamira. Ceritanya begitu hidup, seolah beliau pernah bersentuhan langsung,” kenang lelaki gondrong itu selintas.

 

“Selain itu, saya ingat satu peristiwa kesenian di tahun 1976 yang membanggakan kami atau kita tepatnya,” tambah Bung Yon, “ceritanya suatu hari beliau diundang pameran di Ibu Kota mewakili kota Malang. Pameran itu diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), yang waktu itu masih sangat prestisius sebab dianggap sebagai barometer seni rupa di Indonesia.” Lebih jauh lagi lelaki ini mengenang satu moment yang indah dan tak terlupakan, “Tahunnya 1971. Saya bersama almarhum pak Imam Muhajir serta 6 teman mahasiswa lainnya melancong ke Bali dengan bersepeda pancal. Tentu perjalanan jauh ini mengandung resiko dari berbagai sisinya, namun semua itu menjadi tantangan bagi uji “Nyali” kami yang harus kami lalui sebagai proses menjadi seniman sejati nantinya. Berdekat hari keberangkatan, rencana itu mendapat penolakan dari keluarga almarhum yang diwakili sang kakak (Saleh) dengan berkata, ‘Kon arep golek matek, tah?’ (kamu akan mencari mati, kah?). Terhadap gugatan atau larangan keras ini, almarhum pak Imam Muhajir yang berpenampilan kalem itu, ternyata malah berani membantah. Ia berketetapan hati dan bersikeras ikut serta dalam ‘tour kesenian’ kami ke Bali selama 15 hari. Di Bali kami menyempatkan diri mengunjungi, bertemu sekaligus berdiskusi kecil dengan seniman-seniman besar seperti Le Mayeur di Sanur, Sobrat dan Ida Bagus Made Poleng di Ubud,“ demikian kisah “tour kesenian” itu diceritakan Bung Yon dengan suaranya yang makin rendah sebagai gambaran rasa hati.

 

Perkisahan lain dituturkan oleh Anthony Wibowo, teman kuliah almarhum, sahabat berdialog dan berdebat sesama seniman senior kota Malang. “Saya mulai di tahun 1963, waktu itu saya kenal baik dengan pelukis bernama Mohamad Saleh, kakanya almarhum Imam Muhajir. Dan ketika itu, almarhum Muhajir belum melukis. Saya tahu bahwa kakaknya yang bernama Saleh itu bergabung dengan satu organisasi kebudayaan yang menganut faham realisme sosial.  Pada tahun 1965, tiba-tiba saja sahabat saya, si Saleh alias Helas (nama yang tertera di dalam karyanya) ini hilang atau ‘dihilangkan’.” Kata Anthony seraya membenahi kacamata minusnya, “tahun 1968, ketika itu IKIP Malang mulai membuka jurusan seni rupa dengan jumlah mahasiswa 26 atau 27 orang yang lebih banyak didominasi kaum perempuan sebagai mahasiswanya. Pada angkatan pertama seni rupa itu, ada 3 orang yang selalu berkumpul yakni saya, pak alm. Widodo dan alm. Imam Muhajir. Kala itu dosennya baru 3 orang yakni ibu Handrawati, bapak Kacik Sucipto dan ibu Deddy Winoto. Jurusan ini belum memiliki kelas.” Kenang Anthony akan kampusnya. “Hubungan saya dengan alm. Widodo dan alm. Imam Muhajir sangat akrab. Kami bersepakat saling membakar semangat, dengan cara berkompetisi membuat sketsa. Setiap hari kami wajib saling menunjukkan jumlah sketsa yang dapat kami kerjakan di atas kertas buram. Kadang jumlah sketsa saya lebih banyak dari mereka berdua, namun dikesempatan lain, jumlah sketsa almarhum yang lebih banyak. Memang seringkali obyek yang kami skets itu sama, misalnya gedung katedral Ijen atau sosok perempuan tua yang tengah berjalan dengan payung hitamnya,” begitu pak Anthony mengingat masa-masa studynya. “Saya masih ingat, almarhum Muhajir itu kalau berangkat kuliah membawa sepeda, namun sepeda itu tidak pernah dinaiki. Beliau lebih suka berjalan kaki sambil menuntun sepedanya, alasannya dengan cara begitu ia dapat mensketsa apa saja yang dijumpainya,” ungkap pak Anthony lebih jauh, “tahun 1968 -1970-an tiba-tiba saya mendapati almarhum Muhajir tidak tertarik dengan seni rupa realis yang biasa dikerjakannya. Padahal menurut saya, lukisan realis lebih dapat menyuarakan idialisme dan kebenaran kepada masyarakat,” sampai disini tampak Anthony menimbang-nimbang maksud, “saya kemudian mencari sebabnya, namun kemudian saya lebih tertarik dengan visi abstrak-nya itu sendiri. Bahkan saya sering mempertanyakan atau lebih tepat menggugatnya dengan kalimat: ‘Kenapa seni anda pakai untuk berbicara kepada kehampaan?’ Saya pikir seni abtrak yang ‘tiba-tiba’ ia geluti sesungguhnya “bisu”, tidak menyuarakan apa-apa! Terhadap pertanyaan ini, saya selalu mendapat jawaban yang mengambang dan tak jelas sama sekali. Kadang almarhum Muhajir menjawab seenaknya, ‘Biarlah saya melukis abstrak tanpa harus peduli pihak di luar sana, element seni ya element saja.’ Tentu jawaban semacam ini mengagetkan saya yang melihat basis pengalaman budaya ibu, keluarga dan lingkungannya selama ini dan tiba-tiba sengaja ia tutup.”

 

Menurut pak Anthony Wibowo, almarhum Imam Muhajir kala itu terkesan menghindari segala resiko sosial yang diakibatkan kemungkinan oleh pengutaraan kebenarannya lewat dunia seni rupa. “Atau mungkin almarhum Muhajir sengaja menghindar dari back ground sosial politik yang menyangkut sang kakak? Untuk jawaban ini Muhajir menutup rapat mulutnya. Dan sejak itu ia ‘kekeh’ menggenggam pilihannya sebagai pelukis abstrak. Ia lebih suka menata element-element dasar seni rupa untuk memperoleh sensasi optic saja,” tandas pak Anthony sambil menarik nafas, “pernah secara terbuka ia tidak lagi mencantumkan judul pada karyanya, digantinya kebiasaan itu dengan mencantumkan nomer dan tahun karya saja. Dikesempatan lain, saya sampai mengatakan, “Jir, jangan-jangan kamu itu pembunuh seni? (maksudnya membungkam seni untuk menyuarakan kebenaran),” kenang lelaki berkumis tipis itu seraya merenung, “Tapi apapun juga, almarhum tetap seorang sahabat yang istimewa. Kekerasan dan keteguhan hatinya dalam menggenggam ide, gagasan bahkan idiologi hidupnya sendiri menjadi hal yang demikian langka dan pantas mendapat apresiasi. Almarhum Muhajir sangat setia pada pilihannya bahkan berani berbeda konsep seni rupa dengan teman-temannya, termasuk dengan saya. ” tutup pak Anthony di sore itu.

 

Di sesi berikutnya, refleksi disampaikan oleh Didik Mintadi, teman dosen almarhum sekaligus teman berkesenian di sanggar “Arti”. “Menurut saya, almarhum Imam Muhajir adalah sosok yang luar biasa. Semasa SMA, saya masih senang menggambar secara figuratif (john lenon, David Bowie dsb.) yang dapat menghidupi saya. Lalu ketika mulai masuk fakultas seni rupa di IKIP Malang. Disitu saya banyak direferensi dengan lukisan-lukisan Barat dengan beragam aliranya. Anehnya, saya tidak tertarik dengan referensi yang datang dari Barat itu, namun justru lebih tertarik dengan lukisan abstrak karya almarhum pak Imam Muhajir. Di awal-awal saya menjadi mahasiswa seni rupa di IKIP, tak segan saya melakukan ‘imitatif’ terhadap karya lukisnya. Memang saya kagum tidak saja secara personal, namun juga atas karya-karya abstraknya juga. Ada yang saya rasakan berbeda di akhir-akhir ini, dimana beliau terkesan cukup sensitif, terlebih ketika berbicara konsep dan kami saling tidak sependapat. Disini kemudian beliau cepat tersinggung lalu serta merta berkata “opo’ o wong kepingin begini” (kenapa orang maunya begini). Kata-kata semacam ini tentu sebuah ungkapan egonya yang tidak bisa dimengerti lagi,” tutup Didik sambil merasakan sesak hatinya “ditinggal pergi” sahabat berdebatnya.

 

Lebih jauh refleksi disampaikan oleh ibu Liliek Indrawati , teman dosen di UM seni rupa, yang juga sparing partner almarhum pak Imam Muhajir dalam mengajar di kampus. Menurut pengakuan bu Liliek, almarhum pak Imam Muhajir adalah tempat sampahnya yang paling baik, yang tidak pernah penuh. Tentu dengan kalimat ini menunjukkan kedekatan mereka dalam bersahabat. Menambahi kisahnya, bu Lilekk mengatakan: “Waktu saya mendengar beliau sakit, saya sengaja tak mau menjenguknya, saya mencari-cari alasan yang kadang ga masuk akal. Saya mungkin salah, namun sejujurnya saya sesungguhnya tidak mau melihat beliau terbaring lemah di rumah sakit. Saya selalu berharap pak Imam Muhajir sehat dan bahagia.” Sejenak bu Liliek menahan emosinya, “Perlu saya sampaikan juga bahwa saya itu sejak SMA sudah sangat mengidolakan beliau. Saya mengagumi pak Imam Muhajir sebelum saya mengenal orangnya secara fisik. Saya mengenal beliau dari tulisan-tulisannya soal seni di Koran Jawa Post yang say abaca dan saya kliping. Tahun 1975 saya masuk jurusan seni rupa IKIP dan bertemu almarhum pak Imam Muhajir yang kala itu menjadi asisten dosen mata kuliah ‘Design Dasar’ oleh bu Deddy. Pada masa itu, beliau terkenal sebagai dosen yang sadis bagi mahasiswanya, tapi anehnya tidak kepada saya,” demikian kenang ibu Liliek kembali menahan haru biru perasaannya. ”Lalu saya diolok teman-teman kuliah dengan kalimat, ‘dia suka sama kamu’. Saya memang seringkali berantem dengan beliau, namun pertengkaran kami itu tidak berpanjang-ria, sebab esok harinya pak Muhajir akan menyudahi dan kami berdamai lagi, seolah tidak terjadi apa-apa. Sungguh hal itu mengagumkan dan menunjukkan betapa baik hatinya.”

 

Refleksi juga disampaikan Slamet Henkus, seorang seniman asal kota Batu yang mengaku sejak muda telah mengenal almarhum pak Imam Muhajir. “Kala itu saya bersama Badri dan Koeboe seringkali melancong ke kota Malang untuk melihat pameran lukisan di gedung kesenian di di jalan Nusakambangan, Malang. Di gedung Cendrawasih itu sering ada pameran lukisan, dan kami bermaksud menonton sekaligus bertemu, berdiskusi kecil dengan pak Imam Muhajir yang kami ketahui sangat menarik pemikirannya. Menurut kami, beliau memiliki kemampuan intelektualitas dalam seni rupa yang cukup bagus, sekaligus memiliki kepribadian yang rendah hati dan tidak sombong.” Begitu dikatakan Slamet dengan suara tegas, “bahkan yang paling terkesan adalah sikap kritis beliau pada setiap pemikiran. Namun ketika kita ngotot mempertahankan pemikiran kita, beliau dengan serta merta mendengarnya dengan seksama. Artinya, beliau itu sesungguhnya menuntut tanggung jawab atas sebuah pemikiran. Ada satu peristiwa ketika beliau diminta menulis tentang sejarah seni di kota Malang. Waktu itu ada yang tidak setuju memasukkan seniman di kota Batu ke dalam tulisan tersebut dengan alasan ‘belum layak’. Hal ini sontak mengusik rasa keadilan seorang almarhum.  Beliau segera mengadakan pembelaan kepada seniman Batu dengan mengatakan pendapatnya bahwa seniman di kota Batu tetap layak diapresiasi dan ditulis baik dalam buku sejarah tersebut,” menutup Slamet dengan penuh kenangan.

 

Tak berhenti disini, refleksi kepada “Seniman Besar” bernama Imam Muhajir ini disampaikan pula oleh teman dosen yang bernama pak Suhardjo. Menurut lelaki tengah baya yang berpenampilan rapi ini, seorang Imam Muhajir adalah sosok seniman yang hebat dan bijaksana. “Seorang Imam Muhajir memiliki kewibawaan, kemampuan berkomunikasi yang baik serta kejeniusan pikir dalam membaca, menguraikan sebuah persoalan. Hal ini terbukti dengan banyaknya persoalan di dalam kampus yang dapat ia selesaikan dengan baik tanpa menimbulkan gesekan berarti.”

 

Di ujung refleksi sengaja penulis meminta sahabat almarhum yang bernama bapak M. Sattar. Lelaki tinggi besar yang sedikit berewokan ini sempat mengomentari lewat wash app-nya demikian, “Almarhum Imam Muhajir adalah konco yang bijak. beliau bisa diajak bergurau, serius dan dapat dimintai pertimbangan masalah seni. Namun dibalik itu semua beliau juga bisa marah kalau konsepnya di-‘garap’ (dikerjai). Beliau paling senang kalau diajak makan jajanan pasar, rujak dan terutama makanan tradisi. Almarhum Imam Muhajir orangnya tertib ketika diajak pertemuan, namun ketika kita hendak menelisik masalah pribadinya, beliau segera saja menutup rapat,” begitu tulis dosen di Unesa yang juga seniman kaligrafi ini, “sebagai pelukis almarhum mampu melukis secara realis, namun sejak tahun 1970 beliau lebih memilih abstrak mengikuti mashab Bandung (ITB).” Tulis Pak Sattar dilain paragraph.

 

Refleksi kepada almarhum Imam Muhajir memang akan bisa berpanjang-panjang kata, sebab bukan saja beliau telah dikenal luas baik sebagai dosen, seniman, ayah, suami dan sahabat kaum muda; namun beliau juga dikenal sebagai seorang seniman hebat (seniman abstrak) yang banyak memberi inspirasi kepada generasi muda. Beliau sudah banyak memberikan ilmu dan karya-karyanya kepada masyarakat luas, khususnya kepada masyarakat seni rupa di Indonesia Raya. Almarhum pak Imam Muhajir tetap akan bisa bercerita lewat karya-karya abstraknya yang ditinggalkan kepada kita sampai kapanpun juga.

 

Selamat Jalan sahabat, semoga diampuni olehNya segala khilaf dan dosamu serta diterima seluruh amal ibadahmu. Semoga arwahmu telah sampai di taman Surga yang teramat indah penuh kedamaian abadi, sebagaimana sering kau nyanyikan dalam buratan warna-warni di kanvasmu. Amin.

 

Malang, 18 April 2016

Ditulis oleh: Bambang AW

You May Also Like

Leave a Reply