Tatengguhn, Rekaman Proses Kreatif Teater Seorang Aktor

MALANGUPDATE -Anwari, seorang aktor teater asal Sumenep menerbitkan sebuah buku berjudul ” Tatengghun-Kompilasi Catatan Kreatif Teater”.
Buku ini merupakan upaya merekam proses kreatifnya dalam berteater selama tujuh tahun terakhir.
Tatengghun, yang berarti pertunjukan ini, adalah salah satu karya terakhirnya yang dipentaskan di kampung halamannya sendiri di dusun Balowar, desa Dasuk, sebuah kawasan pelosok di Kabupaten Sumenep.

Tubuh Teater -Anwari, membawa bukunya diiringi alunan musik dari grup Tadi Pagi.
Tubuh Teater -Anwari, membawa bukunya diiringi alunan musik dari grup Tadi Pagi.

Buku ini pun dibedah dalam suatu diskusi di Kafe Pustaka , Universitas Negeri Malang, Senin (13/11/2017).
Sejumlah pembedah dari berbagai kalangan dihadirkan dalam kegiatan ini.
Ada Doni Kus Indarto (sutradara teater), Redy Eko Prastyo (musisi dan penggagas Jaringan Kampung Nusantara), Dwi Cahyono (Antropolog UM), serta
Ardi Wina Saputra (penulis buku “Aloer-Aloer Merah”), sebagai moderator.
Doni Kus menemukan banyak kata tubuh dalam buku ini, yang ia tafsirkan sebagai upaya pemenuhan kebahagian dari penulis. Selain itu ia sangat mengapresiasi penerbitan buku ini. “Seperti pohon sawit yang dikastrasi atau dipotong sebagian dahannya, agar mendapat hasil yang lebih baik,” jelasnya.
Sementara Redy, yang bertindak sebagai penata musik dalam Tatengghun ini, menilai Anwari berani membuka diri, serta mampu menerjemahkan DNA estetik yang ada dalam diri masyarakat ke dalam suatu gerak dan resonansi yang sinergi bukan kompetitif. ” Saya baru kenal empat bulan lalu. Tapi saya dibuat tercengang dengan konsepnya. Bagaimana ia mampu mengajak keluarga dan masyarakat kampungnya terlibat total, sampai rela membongkar sebagian kandang demi sebuah stage,” ungkapnya.
Redy berharap ada Anwari-Anwari lain, yang mampu berkesenian tanpa dibatasi ruang dan waktu.
“Dan buku ini pun bisa menjadi sebuah kitab di kemudian hari,” tandasnya.

Bedah Buku-Dari kiri- Redy Eko Prastyo, Dwi.Cahyono dan Doni Kus Indarto serta Ardi Wina Saputra saat bedah buku.
Bedah Buku-Dari kiri- Redy Eko Prastyo, Dwi.Cahyono dan Doni Kus Indarto serta Ardi Wina Saputra saat bedah buku.

Antropolog Dwi Cahyono menilai buku ini penting karena dibandingkan dengan cabang kesenian lain karena jumlahnya yang jarang.
“Buku ini memperkaya khasanah literasi tentang teater yang dapat diakses publik dengan mudah. Apalagi masyarakat kita masih berorientasi pada produk, sementara buku ini berisi proses dari hulu hingga hilir,” paparnya.
Dwi Cahyono menambahkan, ada sebuah keberanian yang harus disertai konsekuensi terkait apa yang disebutkan sebagai pendekatan antropologi teater.
Sebagai putra daerah, Dwi menilai Anwari melakukan eksplorasi di daerahnya sendiri dengan berperan sebagai insider dan outsider.
“Insider karena memang lahir di sana, dan outsider karena mampu keluar dari sana,” ungkapnya.
Dwi berharap buku ini dapat menginspirasi pekarya atau peminat teater lainnya.

Misterius-Penampilan misterius Nadie Dance
Misterius-Penampilan misterius Nadie Dance

Bedah buku ini dimeriahkan dengan penampilan Nadie Dance dan musik dari kelompok Pagi Tadi.
Diskusi buku ini sudah yang kedua kali digelar , setelah sebelumnya dibedah di Surabaya pada 9 November 2017 lalu. (putra).

Foto-foto: malangupdate /putra

You May Also Like

Leave a Reply